Loading...

Inflasi: Pengertian, Jenis, Teori, Cara Menghitung, Pengaruh, Akibat, & Cara Mengatasinya

Advertisement

Inflasi yang ditandai dengan kenaikan harga harga barang, adalah peristiwa moneter penting yang biasa kita jumpai dalam kegiatan perekonomian. Hampir seluruh perekonomian di Negara manapun mesti mengalami inflasi. Sehingga kadang kadang fenomena ekonomi ini bisa menjadi suatu kendala bahkan juga bisa menjadi acuan untuk mengukur tingkat kestabilan ekonomi.


Sebagaisebuah fenomena ekonomi yang pengaruhnya cukup besar terhadap kehidupan masyarakat, maka inflasi banyak mendapat perhatian istimewa oleh para ekonom, pemerintah maupun masyarakat umum. Untuk lebih jelasnya bisa kita amati bagan/illustrasi berikut ini.


Inflasi : Pengertian, Jenis, Teori, Cara Menghitung, Pengaruh & Akibat, serta Cara Mengatasinya

Jumlah uang beredar merupakan faktor penentu kenaikan indeks harga. Inflasi yang sangat tinggi akan berdampak pada tingkat pengangguran dan kesempatan kerja serta pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja merupakan ciri dari kemakmuran masyarakat, sehingga inflasi harus dikendalikan dan diatasi.


1. Pengertian Inflasi


Dalam ekonomi, inflasi memiliki pengertian suatu proses meningkatnya harga harga secara umum dan terus menerus (kontinu). Dengan kata lain, inflasi merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Inflasi merupakan proses suatu peristiwa dan bukan tinggi rendahnya tingkat harga.


Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukkan inflasi. Dianggap inflasi jika terjadi proses kenaikan harga yang terus menerus dan saling memengaruhi.


Secara singkat, infasi didefinisikan sebagai tingkat kenaikan harga umum secara terus menerus (persisten) dalam periode tertentu. Sejalan dengan pengertian tersebut, Dr. Boediono dari Universitas Gadjah Mada mendefinisikan infasi sebagai kecenderungan dari naiknya harga harga secara umum dan terus menerus.


Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak disebut infasi, kecuali jika kenaikan tersebut juga mengakibatkan kenaikan sebagian besar dari harga barang-barang lain. Begitu juga kenaikan harga musimn, menjelang hari besar keagamaan, atau yang terjadi sekali saja dan tidak memiliki pengaruh lanjutan tidak disebut sebagai infasi.


Untuk lebih jelasnya dalam mengetahui fenomena inflasi maka akan kita runtut keberadaanya secara lebih mendetail. Adanya kenaikan atau ketidakstabilan harga (inflasi) sebenarnya bersumber dari ketidakseimbangan arus uang dengan arus barang dalam perekonomian. Secara sederhana dapat kita gambarkan sebagai berikut :


“Arus barang mengalir dari hasil produksi Rumah Tangga Perusahaan kepasar barang dan bertemu dengan arus uang yang berasal dari pembelanjaan pemerintah dan rumah tangga Konsumen, di sinilah harga akan tercipta. Jika terjadi keseimbangan arus uang dan barang maka harga harga akan stabil atau antara permintaan dan penawaran seimbang. Apabila terjadi ketidakseimbangan arus uang dan arus barang maka harga harga akan mengalami kenaikan. Hal demikian itulah yang disebut dengan inflasi.”


Dengan demikian, ada tiga komponen yang harus dipenuhi agar dapat dikatakan telah terjadi inflasi, yaitu:


a. Adanya kenaikan harga,

b. Bersifat umum, dan

c. Berlangsung terus-menerus (persistent).


2. Jenis Jenis Inflasi


Inflasi yang terjadi dapat dikelompokkan berdasarkan sifat, sebab terjadinya, dan berdasarkan asalnya.


Inflasi Berdasarkan Sifatnya


Berdasarkan sifatnya, inflasi dibagi menjadi tiga kategori utama, yaitu inflasi rendah, inflasi menengah, inflasi berat, dan inflasi sangat tinggi.


a) Inflasi Rendah (Creeping Inflation)


Inflasi rendah (creeping inflation) yaitu inflasi yang besarnya kurang dari 10% per tahun. Inflasi ini dibutuhkan dalam ekonomi karena akan mendorong produsen untuk memproduksi lebih banyak barang dan jasa.


b) Inflasi Menengah (Galloping Inflation)


Inflasi menengah (galloping inflation) yaitu inflasi yang besarnya antara 10 30% per tahun. Inflasi ini biasanya ditandai oleh naiknya harga harga secara cepat dan relatif besar. Angka inflasi pada kondisi ini biasanya disebut inflasi 2 digit, misalnya 15%, 20%, dan 30%.


Laju inflasi ini secara nyata dapat dilihat dalam gerak kenaikan harga. Pendapatan riil masyarakat terutama masyarakat yang berpenghasilan tetap seperti buruh, mulai turun dan kenaikan upah selalu lebih kecil dibanding kenaikan harga.


c) Inflasi Berat (High Inflation)


Inflasi berat (high inflation) yaitu inflasi yang besarnya antara 30 100% per tahun, misalnya inflasi yang terjadi pada pertengahan dekade 1960an yang mencapai 600%.


d) Inflasi Sangat Tinggi (Hyperinflation)


Inflasi sangat tinggi (hyperinflation) yaitu inflasi yang ditandai oleh naiknya harga secara drastis hingga mencapai 4 digit (di atas 100%). Pada kondisi ini, masyarakat tidak ingin lagi menyimpan uang, karena nilainya turun sangat tajam sehingga lebih baik ditukarkan dengan barang.


Dari keempat macam inflasi tersebut, yang dapat ditolerir hanyalah inflasi ringan karena kenaikan harga yang perlahan lahan dapat mendorong investasi, sebab pengusaha dapat menikmati kenaikan harga sebagai keuntungan.


Inflasi Berdasarkan Sebabnya


Berdasarkan penyebabnya, inflasi dapat dibedakan menjadi sebagai berikut.


a) Demand Pull Inflation


Inflasi ini terjadi sebagai akibat pengaruh permintaan yang tidak diimbangi oleh peningkatan jumlah penawaran produksi. Akibatnya, sesuai dengan hukum permintaan, jika permintaan banyak sementara penawaran tetap, harga akan naik.


Jika hal ini berlangsung secara terus menerus, akan mengakibatkan inflasi yang berkepanjangan. Oleh karena itu, untuk mengatasinya diperlukan adanya pembukaan kapasitas produksi baru dengan penambahan tenaga kerja baru.


b) Cost Push Inflation


Inflasi ini disebabkan karena kenaikan biaya produksi yang disebabkan oleh kenaikan biaya input atau biaya faktor produksi. Akibat naiknya biaya faktor produksi, dua hal yang dapat dilakukan oleh produsen, yaitu langsung menaikkan harga produknya dengan jumlah penawaran yang sama atau harga produknya naik karena penurunan jumlah produksi.


Ada beberapa hal yang menyebabkan biaya produksi naik yang akhirnya menimbulkan inflasi, hal tersebut antara lain :


1) Kenaikan Biaya bahan Baku (Price Push Inflation)


Inflasi ini secara umum disebabkan karena adanya kenaikan harga bahan baku produksi. Misalkan, Kenaikan harga BBM akan berakibat pada kenaikan biaya transport untuk hampir semua jenis barang, sehingga harga jualnya juga mengalami kenaikan.


2) Adanya Kenaikan Gaji/upah (Wages Cost Push Inflation)


Kenaikan upah buruh yang terjadi karena adanya tuntutan dari kaum buruh (serikat pekerja) akan menyebabkan biaya produksi menjadi naik, untuk menutupi kerugian ini maka perusahaan akan meningkatkan harga jual produknya. Pada jenis inflasi ini efeknya cukup membahayakan di masa masa selanjutnya, yakni bisa dilukiskan sebagai berikut:


“Jika upah buruh naik maka akan mendorong timbulnya kenaikan harga, adanya kenaikan harga tersebut tentu sajaakan menimbulkan tuntutan lagi dari kaum buruh untuk menaikkan gaji/upahnya begitu seterusnya.”


Efek semacam ini dalam permasalahan inflasi disebut Efek Spiral.


c) Bottle Neck Inflation


Inflasi ini dipicu oleh faktor penawaran (supply) atau faktor permintaan (demand). Jika dikarenakan faktor penawaran maka persoalannya adalah sekalipun kapasitas yang ada sudah terpakai tetapi permintaannya masih banyak sehingga menimbulkan inflasi.


Adapun inflasi karena faktor permintaan disebabkan adanya likuiditas yang lebih banyak, baik itu berasal dari sisi keuangan (monetary) atau akibat tingginya ekspektasi terhadap permintaan baru.


d) Inflasi dari Sisi Permintaan ( Demand-Side Inflation)


Inflasi dari sisi permintaan adalah jenis Inflasi yang disebabkan oleh kenaikan permintaan total yang berlebihan sehingga terjadi perubahan pada tingkat harga. Kenaikan permintaan terjadi karena jumlah uang beredar lebih besar daripada tingkat produksi masyarakat, sehingga menyebabkan adanya peningkatan per mintaan untuk berbagai jenis barang dan jasa.


Banyaknya permintaan total tersebut akan meningkatkan harga harga secara keseluruhan. Inflasi jenis ini disebut juga dengan Inflasi tarikan permintaan ( demand-pull Inflation).


Inflasi : Pengertian, Jenis, Teori, Cara Menghitung, Pengaruh & Akibat, serta Cara Mengatasinya

Keterangan:

P = Tingkat harga

Y = Tingkat pendapatan

P0 = Tingkat harga asal

P1 = Tingkat harga kemudian

AD0 = Permintaan agregat asal

AD1 = Permintaan agregat kemudian

AS0 = Penawaran agregat asal


Inflasi Berdasarkan Asalnya


Dari segi asalnya, inflasi dapat dibedakan sebagai berikut.


a) Inflasi yang berasal dari dalam negeri (domestic inflation)


Inflasi : Pengertian, Jenis, Teori, Cara Menghitung, Pengaruh & Akibat, serta Cara Mengatasinya

Misalnya, inflasi karena defisit anggaran belanja negara yang terus menerus. Inflasi ini diatasi pemerintah dengan mencetak uang baru dalamjumlah besar untuk memenuhi kebutuhan pemerintah. Selain itu, inflasi yang berasal dari dalam negeri juga dapat disebabkan oleh kegagalan panen dan sebagainya.


b) Inflasi yang berasal dari luar negeri (imported inflation)


Inflasi : Pengertian, Jenis, Teori, Cara Menghitung, Pengaruh & Akibat, serta Cara Mengatasinya

Inflasi ini timbul karena negara negara yang menjadi mitra dagang suatu negara mengalami inflasi yang tinggi. Kenaikan harga harga di luar negeri atau di negara negara mitra dagang utama (antara lain disebabkan melemahnya nilai tukar) yang secara langsung maupun tidak langsung akan menimbulkan kenaikan biaya produksi di dalam negeri. Kenaikan biaya produksi biasanya akan disertai dengan kenaikan harga harga barang.


Jenis inflasi ini banyak dialami oleh negara negara berkembang yang sebagian besar usaha produksinya mempergunakan bahan danalat dari luar negeri. Misalnya, inflasi yang terjadi di Jepang menimbulkan inflasi pula di Indonesia karena kenaikan harga bahan cat, bahan foto, kendaraan dan lain lain yang berasal dari Jepang berpengaruh pada kenaikan harga harga barang hasil produksi di Indonesia.


3. Teori Teori Inflasi


Gejala gejala inflasi dapat dijelaskan dengan teori teori inflasi. Terjadinya inflasi selalu dihubungkan dengan jumlah uang yang beredar.Terdapat beberapa teori mengenai jumlah uang yang beredar, antara lain sebagai berikut.


a. Teori Kuantitas (Irving Fisher)


Inflasi : Pengertian, Jenis, Teori, Cara Menghitung, Pengaruh & Akibat, serta Cara Mengatasinya

Teori kuantitas tergolong teori inflasi yang paling awal. Meskipun demikian, masih bisa digunakan untuk menjelaskan proses inflasi pada zaman modern saat ini. Teori ini dipelopori oleh Irving Fisher.Teori ini menekankan bahwa inflasi dipengaruhi oleh pertambahan jumlah uang beredar dan anggapan masyarakat terhadap kenaikan harga harga (faktor psikologis).


Teori ini mengacu pada persamaan pertukaran dari Irving Fisher, yaitu MV = PT. Menurut teori ini, terdapat tiga penyebab naiknya harga barang secara umum yang cenderung akan mengarah pada inflasi, yaitu sebagai berikut.


1) Jika dalam perekonomian, jumlah uang beredar (M) dan transaksi barang produksi (T) relatif tetap, harga (P) akan naik jika sirkulasi uang atau kecepatan perpindahan uang (V) dari satu tangan ke tangan yang lain berlangsung cepat (masyarakat terlalu konsumtif ).


2) Jika dalam perekonomian, kecepatan perpindahan uang (V) dan transaksi barang produksi (T) tetap, kenaikan harga disebabkan oleh terlalu banyaknya uang yang dicetak dan diedarkan ke masyarakat.


3) Jika dalam perekonomian, kecepatan perpindahan uang (V) dan jumlah uang beredar (M) tetap, kenaikan harga disebabkan oleh turunnya transaksi barang produksi (T) secara nasional.


Dengan demikian, persentase kenaikan harga hanya akan sebanding dengan kenaikan jumlah uang beredar atau sirkulasi uang, tetapi tidak terhadap jumlah produksi nasional.


b. Teori Keynes


Inflasi : Pengertian, Jenis, Teori, Cara Menghitung, Pengaruh & Akibat, serta Cara Mengatasinya

Menurut Keynes, inflasi terjadi karena ada sebagian masyarakat yang ingin hidup di luar batas kemampuan ekonominya. Proses inflasi merupakan proses perebutan bagian rezeki di antara kelompok kelompok sosial yang menginginkan bagian lebih besar dari yang bisa disediakan oleh masyarakat tersebut.


Proses perebutan ini terlihat pada keadaan di mana permintaan masyarakat terhadap barang barang selalu melebihi jumlah barang yang tersedia. Hal ini menimbulkan apa yang disebut celah inflasi atau inflationary gap.


Inflasi terjadi karena:

1. Keinginan masyarakat untuk hidup di luar batas kemampuan ekonominya;

2. Adanya perebutan rezeki antarkelompok.


c. Teori Strukturalis


Teori strukturalis disusun berdasarkan pada pengalaman di negara negara Amerika Latin. Teori ini memberikan perhatian besar terhadap struktur perekonomian di negara berkembang. Inflasi di negara berkembang terutama disebabkan oleh faktor faktor struktur ekonominya. Menurut teori ini, kondisi struktur ekonomi negara berkembang yang dapat menimbulkan inflasi adalah:


1) Ketidakelastisan Penerimaan Ekspor


Nilai ekspor di negara berkembang tumbuh secara lamban dibandingkan pertumbuhan sector sektor lain.Adapun penyebabnya adalah harga produk produk pertanian yang tidak stabil atau rendah dan produksi barang barang ekspor tidak mampu mengikuti perubahan harga.


2) Ketidakelastisan Penawaran atau Produksi Makanan di Dalam Negeri


Produksi bahan makanan dalam negeri tidak tumbuh secepat pertambahan penduduk dan pendapatan perkapita. Hal ini menyebabkan harga bahan makanan di dalam negeri cenderung naik, sehingga melebihi kenaikan harga barang barang lain. Dampak yang ditimbulkan adalah munculnya tuntutan karyawan untuk mendapat kenaikan upah atau gaji. Naiknya upah karyawan menyebabkan kenaikan ongkos produksi.


Hal ini berarti akan menaikkan harga barang barang. Kenaikan harga barang barang tersebut mengakibatkan munculnya kenaikan upah lagi. Kenaikan upah kemudian diikuti oleh kenaikan harga barang barang, begitu seterusnya.


4. Cara Menghitung Laju Inflasi


Laju inflasi adalah tingkat persentase kenaikan dalam beberapa indeks harga dari satu periode ke periode lainnya. Menghitung laju inflasi merupakan salah satu topik yang penting dalam pembahasan inflasi. Angka inflasi dihitung oleh Badan Pusat Statistik dari persentase perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK)pada periode tertentu dibandingkan dengan IHK pada periode sebelumnya.


Dalam masa inflasi kenaikan harga untuk bermacam macam barang tidak berjalan dengan laju yang sama. Ada tiga cara untuk mengukur laju inflasi yaitu:


a. Membandingkan rata rata tahunan,

b. Membandingkan bulan ini dengan bulan yang sama pada tahun lalu, dan

c. Membandingkan bulan ini dengan bulan yang lalu.


Untuk menghitung besarnya laju inflasi dapat digunakan Indeks Harga, sebagai berikut.


Laju Inflasi

=

IHK periode ini - IHK Periode sebelumnya

x 100%

IHK periode sebelumnya


Contoh

Diketahui:

Indeks Harga Konsumen bulan Maret 2005 = 150,65

Indeks Harga Konsumen bulan Februari 2005 = 145,15

Besarnya laju inflasi bulan Maret 2005 adalah:


Laju Inflasi

=

150,65 - 145,15

x 100%

145,15


=

3,79%




5. Pengaruh dan Akibat Inflasi


Inflasi merupakan kondisi yang tidak diharapkan terjadi dalam suatu negara. Inflasi dapat mempengaruhi perekonomian, individu dan masyarakat.


a. Pengaruh terhadap Perekonomian


Inflasi dapat menyebabkan perekonomian tidak berkembang. Dalam kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi, inflasi menimbulkan dampak sebagai berikut:


1) Inflasi mendorong penanam modal spekulatif


Pada masa inflasi, para pemilik modal cenderung melakukan investasi spekulatif, misalnya membeli rumah, tanah, dan menyimpan barang berharga. Investasi tersebut lebih menguntungkan daripada melakukan investasi yang produktif.


2) Inflasi mengurangi kegairahan penanaman modal untuk mengembangkan usaha usaha produktif


Untuk menghindari kemerosotan nilai uang (modal) yang mereka pinjamkan, lembaga lembaga keuangan dan perbankan akan menaikkan tingkat bunga pinjaman. Makin tinggi tingkat inflasi, makin tinggi pula tingkat bunga yang mereka tentukan. Tingkat bunga yang tinggi akan mengurangi kegairahan penanaman modal untuk mengembangkan usaha usaha produktif.


3) Inflasi menimbulkan ketidakpastian keadaan ekonomi di masa depan


Inflasi akan semakin berkembang apabila tidak dikendalikan. Gagal mengendalikan inflasi akan menimbulkan ketidakpastian ekonomi dan arah perkembangan ekonomi akan sulit diramalkan.


4) Inflasi menimbulkan masalah neraca pembayaran


Inflasi menyebabkan harga barang barang impor lebih murah dibandingkan harga barang produksi dalam negeri. Maka impor berkembang lebih cepat, tetapi ekspor akan bertambah lambat. Di samping itu, arus modal ke luar negeri akan lebih banyak daripada yang masuk ke dalam negeri. Keadaan tersebut mengakibatkan terjadinya defisit neraca pembayaran dan kemerosotan nilai mata uang dalam negeri.


b. Akibat Inflasi terhadap Individu dan Masyarakat


Akibat buruk inflasi terhadap individu dan masyarakat dapat dibedakan atas tiga aspek berikut ini.


1) Kesenjangan Distribusi Pendapatan


Dalam masa inflasi, nilai harta tetap (seperti tanah, rumah, bangunan pabrik, dan pertokoan) akan mengalami kenaikan. Bagi para pemilik modal kondisi ini sangat menguntungkan. Sebaliknya, pendapatan riil penduduk berpenghasilan rendah merosot. Dengan demikian inflasi memperlebar kesenjangan distribusi pendapatan di antara anggota anggota masyarakat.


2) Pendapatan Riil Merosot


Sebagian tenaga kerja merupakan para pekerja yang berpenghasilan tetap. Saat inflasi kenaikan harga harga selalu mendahului kenaikan pendapatan. Dengan demikian, inflasi cenderung menimbulkan kemerosotan pendapatan riil sebagian besar tenaga kerja. Ini berarti kemakmuran masyarakat merosot.


3) Nilai Riil Tabungan Merosot


Masyarakat menyimpan sebagian kekayaannya dalam bentuk deposito dan tabungan di bank. Dalam masa inflasi, nilai riil tabungan tersebut akan merosot. Masyarakat yang memegang uang tunai juga akan dirugikan karena penurunan nilai riilnya.


6. Cara Mengatasi Inflasi


Inflasi ada yang disahkan (validated), yaitu inflasi yang dibiarkan berlangsung terus menerus karena pemerintah mengizinkan penambahan suplai uang (misalnya karena defisit anggaran, pemerintah mencetak uang baru). Inflasi yang tidak disertai dengan kenaikan suplai uang disebut inflasi yang tidak disahkan.


Berikut ini, Anda akan mengenal beberapa kebijakan pemerintah dalam mengendalikan inflasi.


1) Kebijakan Moneter


Menurut teori moneter klasik, inflasi terjadi karena penambahan jumlah uang beredar. Dengan demikian, secara teoretis relatif mudah untuk mengatasi inflasi, yaitu dengan mengendalikan jumlah uang beredar itu sendiri.


Kebijakan moneter adalah tindakan yang dilakukan oleh Bank Indonesia untuk mengurangi atau menambah jumlah uang beredar. Ketika jumlah uang beredar terlalu berlebihan sehingga inflasi meningkat tajam, Bank Indonesia akan segera menerapkan berbagai kebijakan moneter untuk mengurangi peredaran uang.


Jenis jenis kebijakan moneter tersebut antara lain penetapan persediaan kas, politik diskonto, dan operasi pasar terbuka. Pada dasarnya, kebijakan kebijakan tersebut bertujuan mengurangi jumlah uang beredar.


2) Kebijakan Fiskal


Bagaimana kebijakan fiskal dapat mengendalikan inflasi? Seperti Anda ketahui, kebijakan fiskal adalah kebijakan yang berkaitan dengan penerimaan dan pengeluaran pemerintah. Kebijakan fiscal dilakukan pemerintah untuk mengurangi inflasi adalah mengurangi pengeluaran pemerintah, menaikkan tarif pajak dan mengadakan pinjaman pemerintah.


3) Kebijakan Non-Moneter dan Non-Fiskal


Selain kebijakan moneter dan kebijakan fiskal, pemerintah melakukan kebijakan non moneter/nonfiskal dengan tiga cara, yaitu menaikkan hasil produksi, menstabilkan upah (gaji), dan pengamanan harga, serta distribusi barang.

Post a Comment

Mohon berkomentar secara bijak dengan bahasa yang sopan dan tidak keluar dari topik permasalahan dalam artikel ini. Dan jangan ikut sertakan link promosi dalam bentuk apapun.
Terimakasih.

emo-but-icon

Home item

Recent Posts